Kamis, 10 Oktober 2019
10 Oktober 2019
assalamualaikum wr wb
hari ini kita bahas masalah "kecewa" ya ?
siapa yang disini pernah kecewa dengan orang terdekat ?
wah tentunya hampir setiap orang ya ..
alasannya apa sih kalian kecewa, pasti tentunya masalahnya berbeda - beda ya.
lalu seberapa besar kecewa kalian ? apakah kecewa kalian besar banget.
nah, ni aku sedikit cerita ya..
hari ini aku merasakan kecewa pada sosok A dan B inisial saja ya gaess. dimana masalahnya hanyalah masalah sepeleh yaitu masalah miss comunication saja, disitu ada kejadian yakni pendataan namun ku kira itu sebuah keputusan untuk berpindahan, karena apa.. ? karena info yang aku terima adalah pindahan. lalu aku merasa emosi, "pindahan kok gak ada konfirmasi sebelumnya ?" ucap aku.
info itu bermula dari si B di kirim ke si A. lalu si A menyampaikan ke saya.
di situ saya berfikir, si A kok tidak ada konfirmasi ke saya.
kemudian saya merasa kecewa, dan menangis..
lalu berceritalah faktanya, ternyata salah paham itu bukan pindahan namun pendataan.
kan sudah beda ya gais untuk maknanya ? kemudian ah sudahlah tidak mengapa, saya bisa menerimanya.. dan sudah tidak membesarkan masalah.
lalu di kemudian hari saya mengetahui sebuah chat antara si A dan si B, itu membahas soal saya dan mengira saya seperti anak kecil hanya karena saya menangis faktor kecewa. jujur saya merasa tidak terima donk.
nah, sudah saya ceritakan kronologinya gais.
gimana ni menurut kalian.
apa semestinya sikap yang harus aku ambil ?
Kamis, 21 Februari 2019
MAKALAH
FRASA DAN KLAUSA
BAHASA
INGGRIS DAN BAHASA INDONESIA
Oleh :
|
Desy Vrayoughaty
|
Kata
Pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala
limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat
sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan,
petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam administrasi pendidikan dalam
profesi keguruan.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah
pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki
bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan
karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan
kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun
untuk kesempurnaan makalah ini.
Surabaya, 21 Februari 2018
Penyusun
DAFTAR ISI
KESIMPULAN DAN SARAN.................................................................................................. 11
Bahasa manusia itu penuh dengan
aturan-aturan. Sebagai bahasa manusia bahasa Inggris dan bahasa Indonesia pun
penuh dengan aturan. Wujud aturan-aturan itu dapat dijalankan dan diamati
secara kontrastif, sinkronis maupun historis komparatif. Pemeriksaan terhadap
aturan-aturan gramatika suatu bahasa dapat untuk mengetahui apakah
penemuan-penemuan yang diperoleh dari pemeriksaan tersebut berlaku pada bahasa
lain, misalnya mengapa ada grammar yang harus ada dalam suatu bahasa, segi bahasa
mana yang harus diatur atau bagaimana wujud aturan-aturan tersebut. (Poedjosoedarmo,
2001:40). Seperti umum diketahui pola urutan frasa dalam bahasa Inggris dan
bahasa Indonesia adalah SVO (Kridalaksana,1993:217; Verhaar, 1996:268).
Walaupun pola urutannya adalah SVO, klausa nominal yang terdapat pada kalimat
majemuk bertingkatpada kedua bahasa tersebut tentu mempunyai kekhasan. Dalam
tulisan ini Aturan-aturan yang terdapat
pada klausa nominal pada kedua bahasa tersebut digunakan untuk mengetahui
perbedaan wujud pola urutan frasa kedua bahasa. Perbedaan wujud pola urutan
frasa tersebut diperiksa sehingga diketahui kekhasan yang terdapat pada kedua bahasa
tersebut.
1. Pengertian
Frasa dan Klausa
2. Contoh
Kalimat Frasa dan Klausa
3. Jenis
– jenis Frasa dan Klausa
4. Perbedaan
Kalimat berpola Bahasa Indonesia dengan Kaliamat dalam Bahasa Inggris
Untuk
mengetahui perbedaan frasa dan kalusa, mengenai hubungan frasa dan klausa dalam
satu kalimat yang mempunyai fungsi sempurna.
Pengertian
Frase adalah satuan gramatikal berupa gabungan kata yang bersifat non
predikatif yang mengisi salah satu fungsi sintaksis. Pembentuk frase adalah
morfem bebas. Frase tidak mempunyai predikat.
Contoh
: kamar mandi, bukan sepeda.
Frase
mungkin untuk diselipi kata lain.
Contoh
: adik saya menjadi adik milik saya.
Salah
satu unsur frase tidak dapat dipindahkan sendiri, melainkan harus bersama-sama.
Contoh
: Nenek membaca koran di teras depan.
Penjelasan
Depan
: nenk membaca koran di teras. (tidak
berterima)
a. Frase eksosentrik
Yaitu frase yang komponennya tidak
memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Misal frase di
pasar. Secara utuh dapat mengisi fungsi keterangan, tapi komponen di atau pasar
saja tidak dapat menduduki fungsi tersebut. Frase eksosentrik dibedakan menjadi
:
b.frase eksosentrik direktif
Frase eksosentrik yang komponen
pertama berupa preposisi (di, dari, ke) dan komponen kedua berupa kata atau
kelompok kata berkategori nomina.
Frase
ini disebut juga frase preposisional karena komponen pertama berupa preposisi.
Contoh : di pasar, dari kayu jati, demi kemakmuran, dsb.
c. frase eksosentrik non direktif
Frase eksosentrik yanga komponen
pertama berupa artikulus si, sang atau kata lain seperti yang, para, kaum,
sedang komponen kedua berupa kata atau kelompok kata berkategori nomina,
ajektifa, dan verba. Contoh : si miskin, para jurnalis,kaum cendekiawan.
d.
Frase endosentrik
Yaitu frase yang salah satu unsurnya
memiliki perilaku sintaksis yang sama dengan keseluruhannya. Salah satu
unsurnya dapat menggantikan kedudukan keseluruhan. Contoh : sedang membaca
menjadi membaca.
Frase
endosentrik disebut juga frase modifikasi karena komponen kedua mengubah atau
membatasi makna komponen pertama. Contoh : membaca, diberi sedang berarti
pekerjaan sedang berlangsung.
Selain
disebut sebagai frase modofikasi, juga sering disebut sebagai frase
subordinatif karena salah satu komponennya berlaku sebagai komponen atasan
(inti) dan yang lainnya sebagai komponen bawahan. Frase subordinatif, dilihat
dari kategori intinya ada frase nomina, verba, ajektifa, dan numeral.
e. Frase koordinatif
Yaitu frase yang terdiri dari dua
atau lebih komponen yang sederajat dan dapat dihubungkan oleh konjungsi
koordinatif (dan, atau, tetapi, baik…maupun). Contoh : sehat dan kuat, buruh
atau majikan.
Frase
koordinatif yang tidak menggunakan konjungsi secara eksplisit disebut frase
parataksis. Contoh : hilir mudik, tua muda.
f. Frase apositif
Yaitu frase yang kedua komponmennya
saling merujuk sesamanya sehingga urutannya dapat dipertukarkan. Contoh :
Pak
Ahmad, guru saya, sedang sakit, menjadi
Guru
saya, Pak Ahmad,sedang sakit.
Biasanya dilakukan di sebelah kanan
atau kiri. Dalam Bahasa Indonesia, perluasan frase sangat produktif karena :
1) untuk menyatakan konsep-konsep khusus atau
sangat khusus.
2) pengungakapan konsep kala, modalitas,
aspek, jenis, jumlah, ingkar dan pembatas tidak dinyatakan dengan afiks.
3) keperluan untuk memberi deskripsi secara
terperinci.
Klausa menurut Cook (1969:65) klausa
adalah kelompok kata yang mengandung satu pedikat Klausa dipilah menjadi klausa
bebas dan terikat. Klausa bebas merupakan klausa yng potensial untuk menjadi
kalimat tunggal. Klausa-klausa bebas tersebut dapat bergabung dengan bantuan
klausa bawahannya dan konjungsi koordinator sehingga menghasilkan konstruksi
kalimat majemuk setara. Klausa terikat merupakan klausa yang tidak potensial
untuk menjadi kalimat tunggal tetapi bisa menjadi unsur dari kalimat majemuk
bertingkat..Cook (1964:64) berkata bahwa klausa terikat dapat dipilah menjadi
(a) klausa nominal, (b) klausa adjektival, dan (c) klausa adverbial. Klausa
Nominal adalah klausa yang berfungsi sebagai nomina karena klausa nomina
tersebut berlaku sebagai nomina. Klausa ini menduduki posisi subjek kalimat,
objek kalimat, pelengkap ataupun objek preposisi. Dalam konstruksi BI,
konjungsi yang digunakan seperti dalam klausa nomina Bahasa Indonesia dikenal
dengan sebutan kojungsi subordinatif pada klausa pemerlengkapan (Sugono,
1995:186). Konjungsi yang digunakan pada klausa pemerlengkapan ini adalah bahwa,
tempat, dimana, dan kata tanya seperti apa, mengapa, kapan, siapa
atau bagaimana yang bisa diikuti partikel-kah atau gabungan kata
seperi dengan siapa, untuk apa, kemanai atau dimana. Konjungsi
yang menggunakan kata tanya ini digunakan jika makna atau proposisi yang
terkandung dalam klausa subordiantif berhubungan dengan ketidakpastian,
pertanyaan, atau jawaban yang tersurat.(Alwi,dkk, 1998:411)
Berikut ini contoh klausa pemerlengapan
Bahasa Indonesia:
1. Sekarang dia baru mengetahui bahwa pacarnya bisa masak
2. Saya tahu kapan dia datang
S P O
3. Dia tidak tahu siapa yang mengerjakan dokumen itu
S P O
4. Saya tidak tahu apa yang ada dalam kotak itu
S O
5. Berita bahwa dia akan diganti sudah tersebar
P S
Dalam hubungan komplementasi atau
pemerlengkapan klausa subordinatif melengkapi apa yang dinyatakan oleh verba
klausa utama (contoh 1-4) atau nomina subjek (contoh5),(Alwi, dkk, 1998:410).
Klausa-klausa tersebut menduduki posisi objek (contoh 1-4) dan posisi apositif
subjek (contoh 5).Dalam hubungan komplementasi, klausa subordiantif melengkapi
apa yang dinyatkan oleh verba klausa utama (contoh 1-4) atau oleh nomina subjek
(contoh 5)
Pada
Bahasa Inggris konjungsi yang digunakan adalah what, when, where, why, how,
whatever, whenever, whether, if, that.
Contoh:
6. I know when he will arrive
S V O
Klausa nomina sebagai objek verba
S VP
P O (klausa nomina sebagai objek preposisi)
8. When he will arrive is not important.
S V Complement
9. The question is how he will get the money.
S V
Complement (Klausa nomina sebagai
pelengkap)
Klausa yang menempati slot nomina pada
contoh tersebut berpola dasar :
Konjungsi +
Subjek +Verba
Namun tidak selalu pola dasar klausa
nomina itu seperti contoh diatas. Adakalanya klausa nomina tersebut tidak
bersubjek karena konjungsi dari klausa tersebut juga berfungsi sebagai subjek
klausa. Konjungis yang digunakan pada konstruksi ini adalah who, whoever,
what, whatever, which, whichever.
10. I don’t know what is in the box
Pada contoh tersebut ada 2 klausa: I
don’t know dan what is in the box. Kedua klausa
tersebut dihubungkan dengan konjungsi what.
What pada konstruksi tersebut
mempunyai dua fungsi. Seain sebagai
konjungsi, what I berfungsi sebagi subjek dari is.
Konstruksi what is in the box pada
kalimat I don’t know what is the box merupakan objek.
Berikut ini merupkan contoh klausa
nomina yang bersubjek konjungsi dan yang
berfungsi sebagi objek preposisi maupun
subjek.
11. We are concerned about who will do the test
Klausa nomina sebagai objek preposisi
12.
Whoever is coming to the party
must bring a gift.
Klausa nomina sebagai subjek
13. His believe that coffe grows in
Brazil is correct.
Klausa
nomina sebagai subjek apositif
Klausa Nominal Berkonjungsi Kata Tanya
14. I know when he will arrive
15. Saya tahu kapan dia datang (TTBI,1988:390)
16. I know who will do the work
17. Saya tahu siapa akan mengerjakan
pekerjaan itu
(TTBI,1998:411)
Alwi,dkk (1988:389) mengatakan bahwa
klausa subordinatif yang menduduki posisi objek merupakan klausa nominal. Lebih
lanjut dikatakan bahwa selain konjungsi bahwa, klausa yang disubordinasi
tersebut dapat pula ditandai oleh konjungsi berupa kata tanya. Pada contoh (1)
dan (2), kedua konstruksi mempunyai satu anak kalimat subordinatif berposisi
sebagai objek. Konstruksi klausa subordinatif tersebut terdiri dari:
konjungsi + subjek + predikat.
Pada konstruksi klausa terikat pada kedua bahasa tersebut nampak tidak ada
permasalahan. Namun ada konjungsi yang berupa kata tanya yang tidak langsung
diikuti oleh subjek. Konjungsi tersebut adalah who, whoever, what,
whatever, which, whichever (untuk
bahasa Inggris) dan siapa, apa (untuk bahasa Indonesia).
18. I
know who will do
the work
Konjungsi pada struktur Bahasa Inggris
selalu diikuti klausa. Klausa tersebut
tidak berupa klausa tanya. Apabila
bentuk klausa tersebut klausa tanya maka klausa
tersebut tidak berupa klausa tanya.
Apabila bentuk klausa tersebut klausa tanya maka
klausa tersebut diperhitungkan sebagai
klausa berita. Seperti contoh 5, klausa who will do
the work merupakan
klausa subordinatif dari klausa I know. Jika klausa subordinatif
tersebut bukan merupakan bagian dari
klausa utama, maka klausa tersebut berbentuk
klausa tanya yaitu: who will do the
work? Klausa ini menanyakan suatu hal mengenai
subjek . Begitupula dengan konjungsi
yang termasuk katatanya tetapi bukan kata tanya
penanya subjek ( who, what, which). Klausa
yang menggunakan kata tanya tersebut
harus diubah menjadi klausa berita
apabila menjadi klausa subordiantif dari suatu
konstruktur kalimat majemuk bertingkat.
KESIMPULAN
Pengertian
Frase adalah satuan gramatikal berupa gabungan kata yang bersifat non
predikatif yang mengisi salah satu fungsi sintaksis. Pembentuk frase adalah
morfem bebas. Frase tidak mempunyai predikat. Klausa menurut Cook (1969:65)
klausa adalah kelompok kata yang mengandung satu pedikat Klausa dipilah menjadi
klausa bebas dan terikat. Klausa bebas merupakan klausa yng potensial untuk
menjadi kalimat tunggal.
SARAN
Pemahaman satuan sintaksis dan semantik bahasa
Indonesia bagi guru, selain dapat menjadi bekal dalam pemakaian bahasa
Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari juga dapat bermanfaat
dalam pembinaan kemampuan berbahasa siswa. Sehingga, materi ini harus
benar-benar dikuasai dan dipahami.
DAFTAR PUSTAKA
Langganan:
Komentar (Atom)